"Dalam retorika, zeugma adalah kiasan di mana satu kata atau frasa mengatur dua bagian atau lebih kalimat yang berbeda".



Zeugma

Zeugma menuntut kecakapan dalam berbahasa dan juga pemilihan diksi. Serta, kesesuaian antara nada dan makna memberi peran cukup penting dalam memengaruhi atensi pembaca. Zeugma merupakan ragam bahasa yang penggunaannya sangat luas dan digunakan sejak zaman dulu hingga kini, digunakan dalam sastra modern baik melalui lagu maupun film.

Ada banyak perdebatan terkait definisi serta perbedaan antara zeugma dan silepsis. Dalam bahasa Indonesia sendiri, keduanya memiliki perbedaan arti dan juga fungsi yang jelas, meski dalam literatur bahasa lain, misal bahasa Inggris, esensi zeugma berbeda dengan apa yang dipahami dalam bahasa Indonesia.

Penggunaan zeugma juga penting. Zeugma memberikan kesan yang mendalam serta interpretasi makna yang tidak biasa. Zeugma bukan cuma memainkan lagi atensi pembaca tetapi juga bagaimana cara mereka mengartikan pesan sebenarnya dari kalimat tersebut dan zeugma juga memberi nilai tambah tersendiri terhadap penulis. Jadi, zeugma juga digunakan dalam situasi-situasi penting. Dalam novel, drama, pidato, film, lagu, serta zeugma juga bisa menyelamatkan kalimat yang monoton dan minim persepsi menjadi lebih berbobot.

Zeugma digunakan secara luas. Dalam karya Mark Twain, dalam film "The West Wing", atau lagu "Our Song" Taylor Swift. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan zeugma sangat penting dan masih relevan hingga sekarang.

Perbedaan utama antara zeugma dan silepsis mungkin pada interpretasi kata yang menunjukkan perbedaan antara makna semantik maupun gramatikal. Setidaknya ada beberapa tipe terkait zeugma dan silepsis. Meski, secara harfiah, keduanya juga memiliki makna kias dan banyak interpretasi. Zeugma, jika ditarik lebih luas lagi maknanya cenderung lebih bisa mengakomodasi silepsis dibanding misalnya membandingkan perbedaan mendasar keduanya.

Zeugma dapat dibedakan antara zeugma yang bermain dalam makna atau zeugma yang bermain dalam tata bahasa. Keduanya menarik dan memiliki interpretasi tersendiri yang menantang. Perbedaan lain juga terletak pada di mana kata yang mengatur muncul dalam kalimat.

Prozeugma adalah sebuah zeugma di mana kata yang memerintah ada di awal kalimat, sebelum bagian yang diperintah. Zeugma ini relatif mudah digunakan dan memberi kesan yang baik. Misalnya dalam buku Mark Twain "The Adventures of Tom Sawyer".

The new boy took two broad coppers out of his pocket and held them out with derision. Tom struck them to the ground. In an instant both boys were rolling and tumbling in the dirt, gripped together like cats; and for the space of a minute they tugged and tore at each other's hair and clothes, punched and scratched each other's nose, and covered themselves with dust and glory.


Penggunaan kata dust dan glory menunjukkan sebuah retorika serta penempatan kata yang memerintah berada di depan merupakan pilihan yang tepat agar cerita yang dibangun tidak terputus.

Bentuk lain adalah Hypozeugma, di mana kata yang memerintah ada di akhir kalimat. Zeugma ini mungkin lebih cocok dalam narasi dan pidato panjang yang memberikan penegasan makna di akhir kalimat. Pemilihan diksi dan kesesuaian makna juga penting, dalam artian, kedua kata mewakili keseluruhan narasi yang dibuat.

"Yes, my teeth and ambitions are bared".


Zeugma dalam salah satu plot "The Lion King" di atas memang menarik karena kata teeth dan ambitions memang berbeda, baik secara harfiah maupun maknanya. Tetapi, keduanya membawa maksud dan tujuan yang sama.

Jenis lain adalah Mesozeugma dan Diazeugma. Sedangkan dalam konteks majas, majas Zeugma merupakan salah satu majas penegasan dengan menggunakan silepsi dengan kata yang tidak logis dan gramatis untuk konstruksi sintaksis kedua.