Skizoid adalah gangguan kepribadian kluster A yang dicirikan oleh kemampuan interpersonal yang minim, kurangnya minat terhadap interaksi dan hubungan sosial terutama keterikatan secara intim, gaya hidup yang tersembunyi dan soliter, secretiveness, emosional yang dingin, pemisahan diri, dan apati. Meski skizoid secara terus-menerus mengembangkan kehidupan fantasi internal mereka yang kaya, solid dan secara eksklusif dan teliti tetapi fenomenologi skizoid memperlihatkan fitur yang berbeda meski intinya juga sama".



Solitude

Skizoid bukanlah gangguan kepribadian yang asing karena skizoid termasuk salah satu gangguan kepribadian awal sejak pertama kali DSM muncul. Meski dalam perkembangannya, gangguan kepribadian ini banyak menimbulkan kritik dan kontroversi, hal ini terutama terkait proses diagnosis yang cenderung tumpang-tindih dengan gangguan kepribadian (dan mental) lain serta terkait bias budaya.

Masalah utama sebenarnya terkait ambivalensi. Mereka adalah orang yang baik dalam perawatan tetapi juga cepat pula dalam perawatan. Ambivalensi menjadi momok tersendiri dalam sebagian besar sesi, hal ini karena skizoid mudah sekali diajak berkomunikasi tetapi saat arah komunikasi tersebut semakin intim dan melibatkan sisi emosional, mereka mulai merasakan "kesakitan". Hal inilah yang membuat hampir sebagian besar psikolog maupun psikiater kewalahan.

Ambivalensi skizoid merupakan salah satu aspek yang sangat diantisipasi, bahkan oleh orang-orang yang expert dalam subjek ini, seperti Guntrip, Fairbairn, Klein, Nancy, dan banyak yang lain.

Ambivalensi juga yang membuat kehidupan internal mereka cukup dilematis, kontras dengan dinamika sosial mereka yang cenderung datar dan tawar.

Ambivalensi juga yang membuat kesulitan dalam pengobatan. Meski dosis rendah beta-blocker mungkin membantu, itu hanya untuk komplikasinya. Begitu juga metode pengobatan lain seperti psikoterapi, hal itu tidak cukup efektif untuk mengatasi kecenderungan-kecenderungan tersebut terutama dalam situasi dan kondisi yang emosional.

Sebagaimana pola pikir kluster A lain yang kuno dan eksentrik, begitu juga pola pikir ini akan berlangsung lama untuk bisa berubah dan berkembang dalam arah yang tidak terlalu soliter.

Jangan samakan dengan pola pikir individu yang normal. Bahkan individu yang normal pun, bisa mengembangkan pola pikir yang tidak sehat. Tetapi onset pola pikir skizoid ini sejak usia dini, perkembangan yang lama bahkan seumur hidup, dan tentu saja impairment. Dan sebagian besar gangguan kepribadian lain juga seperti itu. Kecenderungan-kecenderungan ini berkembang seiring perkembangan kehidupan mereka.

Fenomenologi skizoid merujuk pada berbagai fenomena dalam dinamika kehidupan skizoid yang biasanya tidak lazim dan mungkin bertentangan dengan karakteristik skizoid pada umumnya. Pertama adalah secret skizoid.

Secret skizoid atau lebih umum dikenal covert skizoid adalah individu skizoid yang memperlihatkan fitur-fitur di luar atau kontradiksi dengan kriteria apa yang ditawarkan baik oleh DSM 5 maupun ICD 11.

Individu ini menampilkan kepribadian yang menarik, engaging, interaktif, dan secara sosial menarik dan dapat diterima dengan baik di lingkungan sosial serta dapat berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan tetapi ketika ditarik ke dalam bentuk hubungan yang lebih emosional, mereka menarik diri dan mempertahankan keselematan dunia internal mereka.

Mereka memiliki fungsi sosial yang cukup baik dibandingkan tipe solitude dengan menunjukkan adanya atensi terhadap perubahan dinamika sosial dan dalam beberapa kesempatan juga berbaur dan berinteraksi di dalamnya. Dalam hal ini, fenomena ini juga mungkin sebagai konsekuensi, ketika lingkungan mengharuskan tipe individu yang lebih aktif dan bersosial, mau tidak mau, skizoid terpaksa mengembangkan pola skizoid seperti itu.

Fenomena ini juga tak lepas dari ambivalensi. Biasanya tipe kepribadian yang lebih terbuka atau openness to experience tinggi dan ekstraversi juga tinggi, memiliki presentasi yang lebih baik, secara eksternal, meski kondisi internal dunia mereka mungkin lebih buruk, secara emosional, karena harus menghadapi konflik yang dilematis dan menguras tenaga, dari keduanya.

Kedua adalah fantasi. Fantasi skizoid memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan dengan fantasi kluster A yang lain. Fantasi skizoid bekerja luar biasa dengan tetap mempertahankan batasan yang jelas antara kehidupan sosial mereka dan kehidupan internal mereka.

Fantasi bukan hanya berfungsi sebagai objek "pelarian" dari kehidupan sosial yang penuh dengan ancaman-ancaman emosional. Fantasi juga sebagai tempat berlindung, mekanisme pertahanan diri serta mengembangkan kreativitas. Tetapi hanya sedikit yang mampu mengelola fantasi mereka dan lagipula, tidak setiap skizoid juga mengembangkan fantasi ini.

Perbedaan dari kluster A yang lain adalah, fantasi skizoid dipisahkan oleh proxy. Hubungan antara dunia dengan yang lain ada pemisah sehingga dalam banyak kasus, kehidupan fantasi tetap berkembang baik tanpa mengganggu kehidupan sosial mereka. Fantasi juga sebagai pengganti interaksi sosial yang sulit didapatkan, hubungan pengganti, tetapi karena konten fantasi yang cenderung idealis, individualis, dan defensif maka mekanisme ini cenderung tak berarti apa-apa. Dalam artian, energi terkuras habis mengembangkan produktivitas yang tidak produktif.

Tetapi, fantasi dipilih sebagai konsekuensi dari ancaman, bahaya serta situasi hubungan terpenjara lain dari interaksi emosional dengan orang lain karena di fantasi, individu dapat merasa bebas, sedikit terkoneksi, serta aman dari ancaman-ancaman emosional.

Dan yang ketiga adalah kehidupan seksual. Kehidupan seksual skizoid juga tak terlepas dari ambivalensi. Mereka mengembangkan interaksi seksual sama eksentriknya dengan interaksi sosial.

Mereka tetap mempertahankan hubungan seksual yang tidak terlalu emosional, tak acuh dengan romantisme seksualitas yang kompleks. Preferensi mereka untuk tetap sendirian, terpisah, dan pengalaman seks yang lebih minim serta menghindari keintiman, menjadi masalah tersendiri, terutama masalah umum mereka dengan komunikasi interpersonal yang berimbas dalam pilihan pasangan seks. Selain itu, ada juga yang mengembangkan preferensi kecenderungan-kecenderungan fantasi seksual seperti anorgasmia, masturbasi, sexual abstinence, bahkan pilihan untuk aseksual sebagai pilihan aman karena merasa seks akan melanggar ruang personal mereka.

Beberapa mungkin mengembangkan seks lewat perilaku dan aktivitas seks instan, dengan (hanya) memenuhi kebutuhan biologis dan tetap aman (secara emosional). Pilihan ini tetap menjadi alasan, lewat aksi ekshibisionis atau atraksi seksual dan haus seks lain yang tetap sama, juga dipengaruhi oleh ambivalensi yang penuh kontradiksi melalui perilaku yang overt maupun covert.

Bukan hanya dalam interaksi sosial, interaksi seksual juga tak terlepas dari kontradiksi. Mungkin individu yang lebih "save" tidak memperlihatkan pola yang "liar" sebagaimana individu yang mengembangkan kebutuhan-kebutuhan seksual mereka lewat fantasi yang "liar". Fenomenologi ini tak terlepas dari naluri seksual dan upaya realisasi yang tetap saja defensif dan tidak produktif.

Skizoid merupakan gangguan kepribadian yang penuh kontroversi. Debat terkait dengan akurasi diagnosis masih dipertanyakan karena skizoid membagikan kategori trait yang sama dengan kluster A yang lain dan gejala-gejalanya juga hampir memiliki kesamaan dengan depresi, Asperger, atau tipe sederhana skizofrenia.

Selain itu, komorbiditas yang cukup tinggi dengan penyakit lain meski secara umum, skizoid bukan tipe gangguan kepribadian yang bermasalah dan banyak masalah.

Selain itu, skizoid termasuk jarang untuk mencari perawatan dan lebih menganggap mereka "berbeda" dan "baik-baik saja".