"Dalam psikologi, ruminasi adalah fokus berlebih terhadap masalah atau gejala dari satu distress serta kemungkinan sebab dan konsekuensinya. Ruminasi bisa sangat destruktif".



Ruminasi

Ruminasi sebenarnya proses berpikir yang wajar, respons terhadap kondisi atau situasi tertentu yang mengharuskan individu mengambil sikap berupa pemikiran-pemikiran mendalam agar lebih memahami dan mengevaluasi permasalahan secara keseluruhan. Ruminasi bisa berarti juga respons terhadap proses kegagalan atas pencapaian tujuan. Dalam Teori Gaya Respons, ruminasi cenderung merujuk pada reaksi atas tingkatan mood.

Ruminasi dan khawatir memang diasosiasikan dengan kecemasan. Begitu juga individu dengan perilaku seperti ini, tak terlepas dari sikap-sikap ruminatif ini. Misalnya, individu dengan neurotisme yang tinggi atau individu yang terlalu excessive dan berlebihan, pemikiran-pemikiran terhadap masalah dan gejala yang dihadapi.

Konsep tentang ruminasi menjadi menarik dan perkembangannya juga cukup baik, terlebih ruminasi bukan hanya berdampak pada kondisi negatif seperti kecemasan dan sebagainya tetapi ruminasi juga dihubungkan dengan berbagai gangguan mental seperti depresi klinis, PTSD, gangguan makan, hingga self injury.

Ada beberapa bentuk ruminasi dan biasanya merefleksikan karakteristik individu. State rumination cenderung lebih menekankan pada konsekuensi atas kegagalan dan pemikiran serta kecenderungan seperti ini jika tidak diikuti tingkat kesadaran yang tinggi bisa berakibat ke dalam kondisi yang lebih buruk. Tipe individu yang pesimistis, neurotik, dan memiliki gaya atribusi yang tidak baik cenderung melebih-lebihkan gejala atau kegagalan tersebut dan tidak cukup kompeten ketika mengevaluasinya.

Hal ini berbeda dengan tipe action yang lebih evaluatif serta menunjukkan prospek terhadap kesalahan dan hambatan terhadap tujuan yang dicapai. Individu dengan tipe seperti ini cenderung lebih optimistis dan kuat menghadapi dinamika perubahan tingkatan suasana hati.

Meskipun begitu, wanita biasanya lebih ruminatif ketika sedang depresi tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa laki-laki juga menghadapi kondisi yang buruk terlebih jika dihadapi dengan konten problematika permasalahan yang lebih emosional.

Pada individu-individu yang memiliki gangguan mental, ruminasi bisa menjadi tahapan proses yang sangat riskan. Misalnya gangguan kepribadian tipe dependen atau histrionik, pemikiran-pemikiran ruminatif ini sangat dilematis. Begitu juga misalnya pasien PTSD, pemikiran ruminatif terhadap trauma masa lalu yang dihadapi bisa sangat menghantui dan memicu perilaku yang lebih buruk.

Ruminasi dapat diukur dengan Ruminative Responses Scale, berupa pertanyaan-pertanyaan terhadap 22 pemikiran-pemikiran ruminatif dan respons dalam situasi sedih dsb. Meski ruminasi cenderung diasosiasikan dengan kondisi negatif tetapi co-rumination cenderung bisa dialihkan lebih baik jika individu mau berbagi masalah atau sharing dengan orang lain yang lebih kompeten.

Ruminasi memang harus diikuti dengan kesadaran serta konstruksi berpikir atau pola pikir yang positif. Tanpa keduanya, ruminasi layaknya benalu, sangat mengganggu dan membebani.

Beberapa faktor yang memengaruhi ruminasi selain perbedaan gender, kepribadian juga memengaruhi bentuk dan tipe ruminasi. Selain itu, konten serta intensitas dan tingkat bahaya dari dampak yang akan dihasilkan juga memengaruhi tipe ruminasi. Individu-individu yang gagal melewati tahap ini, akan cenderung untuk mengambil langkah defensif yang destruktif dan mengabaikan risiko terhadap kesehatan fisik maupun mental.