"Perilaku menyimpang adalah suatu perilaku yang diekspresikan oleh seseorang atau beberapa orang anggota masyarakat baik secara sadar atau tidak sadar, tidak menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku. Istilah ini juga akan ambigu karena setiap masyarakat memiliki anggapan yang berbeda tentang suatu perilaku menyimpang".



Perilaku Menyimpang

Perilaku menyimpang sering disamakan dengan antisosial meski keduanya pada dasarnya berbeda. Seseorang berperilaku menyimpang karena merasa bahwa mereka benar atau telah konformis dengan norma di masyarakat. Antisosial menunjukkan perilaku yang lebih defensif sedangkan konsep tentang konformitas tidak bisa diartikan secara parsial.

Seseorang mungkin terlihat konformis dan menunjukkan perilaku-perilaku baik di lingkungan sosial. Ada juga orang baik tetapi bermasalah dengan moral. Mereka adalah orang-orang yang ambigu. Norma di masyarakat -dalam kondisi tertentu- tidak bisa dijadikan acuan dan standar definisi maupun patokan untuk menentukan tingkat penyimpangan seseorang.

Perilaku menyimpang bukan hanya hasil dari sosialisasi yang tidak sempurna. Perilaku menyimpang juga dipengaruhi oleh faktor biologis dan psikologis. Lagipula, tidak semua penyimpangan adalah negatif dan penyimpangan primer meski konsekuensinya lebih kecil daripada penyimpangan sekunder tetapi polanya lebih konsisten dan terus-menerus.

Pandangan sosiologi tentu saja berbeda dengan pandangan psikologi. Misalnya dalam kasus LGBT, sosiologi memandang hal tersebut sebagai bentuk penyimpangan seksual sedangkan psikologi melihat fenomena LGBT sebagai suatu hal yang normal dan bagian dari keragaman orientasi seksual individu. Begitu juga dengan perilaku ekshibisionisme yang dianggap menyimpang meski dalam pandangan psikologi hal tersebut merupakan gangguan mental.

Perilaku menyimpang bukan atau tidak terjadi serta-merta begitu saja. Ada serangkaian proses. Hal itu dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya pengaruh lingkungan dan juga media massa. Seperti akhir-akhir ini, aksi begal dan perampokan sadis semakin mengkhawatirkan. Meski kontrol sosial (dalam hal ini, kepolisian) telah melakukan upaya-upaya represif, hal ini masih belum efektif. Inilah kuatnya pengaruh lingkungan dan media massa dalam memengaruhi preferensi pola pikir seseorang. Meski hal tersebut bukan satu-satunya penyebab saja.

Faktor lain tentu saja lingkungan tempat tinggal serta didorong oleh kebutuhan ekonomi. Seperti kasus aneh dan viral seorang mahasiswi yang dipukul oleh orang tak dikenal ketika sedang beribadah di masjid. Masalahnya pun cuma sepele.

Banyak kasus-kasus penyimpangan sosial, penyebabnya cenderung sepele. Seseorang yang didorong oleh emosi negatif atau ada kesempatan untuk berbuat seperti itu, perasaan kecewa dan pelampiasan emosi sesaat. Banyak kasus pembunuhan yang disebabkan hanya oleh masalah sepele. Tetapi, ketika seseorang sudah dikuasai oleh emosi mereka, otak mereka akan mulai kacau dan berpikiran sempit. Kondisi ini bukanlah konsekuensi. Sosiologi melihat dari dinamika sosialnya saja, meski kemampuan mengelola emosi terkadang memainkan peran penting.

Dalam kasus penyimpangan kelompok, ketika penyimpangan tersebut dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu adalah hasil dari subkebudayaan yang menyimpang dan mungkin juga anomi.

Kelompok minoritas yang tidak sesuai dengan kelompok mayoritas juga bisa dianggap menyimpang oleh mereka meski secara universal mereka tidak menyimpang. Misalnya dalam kasus muslim Uighur, kelompok ini dianggap menyimpang oleh pemerintah Cina meski masalah yang mereka hadapi lebih kompleks daripada sekedar penyimpangan sosial.

Penyimpangan ada yang bersifat sistemik dan ada juga yang situasional. Penyimpangan sistemik sangat sulit diurai. Seperti budaya korupsi di Indonesia. Penyimpangan seperti ini sangat sistemik dan bersifat turun-temurun.

Peran pengendalian sosial -baik formal maupun nonformal- cenderung masih kuno. Mereka hanya melihat perilaku penyimpangan sosial ini dari satu sisi. Lagipula, seseorang melakukan penyimpangan sosial tentu karena penyimpangan sosial memiliki fungsi terutama terkait tuntutan atas identitas dan individualitas, juga sebagai bentuk rebellion, penarikan diri dari norma-norma konvensional disertai upaya melembagakan tujuan dan cara baru, meski tidak terlalu revolusioner.

Bagaimanapun, penyimpangan sosial adalah fenomena yang kompleks. Harus ada usaha bersama semua elemen untuk menanggulanginya, tetapi dengan cara-cara yang komprehensif dan menyeluruh.